Jumat, Oktober 05, 2012

Driving Our Languages ahead of the Intersection


Once, a friend of mine asked me about some language institutes he might go to that offered best conversation program in English. He told me that although he had studied English since the fourth grade of elementary school, he still could not use English for communication. His teachers at school, according to him, focused mainly on teaching him grammar and reading and rarely asked him to practice speaking.

With no doubts, I suggested him to go to English village in Pare, East Java. I am certainly not trying to promote English village program in Pare and devaluing other language institutes in Indonesia. However, I was just thinking that the program offered in Pare was proven to be the most effective to make someone able to speak in English compared to the others.

Everyone living in or coming to English village in Pare is expected and monitored to communicate to each other in English starting from 5 a.m. to 5 p.m. in all of their activities. People are committed to use the language in the community, besides in the designated English language classes in the village. Arguably, the more everyone has opportunity to use the language, the more they will be able to use it in communication. I could not say that it was not true as when I met my friend again after he had studied in Pare, his English improved and he confidently asked me to be his conversation partner.

I was then personally not surprised when reading an article in the Jakarta Globe on September 1, 2012 about the plan of the establishment of English villages like in Pare in some areas of Indonesia by the Ministry of Manpower and Transmigration of Indonesia. The Manpower and Transmigration Minister, Muhaimin Iskandar, argued that the mastery of English guarantees someone to have a better life. With English, people will have greater access to information and new job opportunities. “English skills and applied production technology, particularly in agriculture, will help the development of their businesses and make them attractive to international and domestic investors in transmigrant areas,” He added.

There might not be too much debate when we ask people whether they think English is important for their future. Everyone will undoubtedly say, “Yes, it is.” Personally, I will also go along with them. It’s not because I work as an English teacher but because I have to admit that today English does play an important role. I sometimes even think that I do not need to learn other languages because every time I meet people from different parts of the world, they will ask me to speak with them in English.

But, It was only after I saw the conversation of Dr. Joe Errington from Yale University in YouTube that I realized how my perspectives about that issue was challenged. Dr. Joe Errington said that, “In the next two generations, Bahasa is responsible to the death of 253 languages in Indonesia.” Then how if the English villages later are established in the areas where an endangered language exists? Is such program seen to be a wise policy from the eyes of linguists, educators and society?

Of the three above groups of people that I invited to talk, both linguists and educators were in favor of local language preservation and rejected the proposal of the establishment of English village. They highlighted the idea that when the language is extinct, the culture will also be lost.  But, society, especially those living in urban areas, seemed to be much more skeptical to this view. They argued that people today need a job that requires good proficiency in English. They think that they do not really need local language, as people in the society today have been so diverse and multicultural. They shift from local language to Bahasa when speaking with their children simply because they think that it will help their children to communicate with people in the community and at school in which Bahasa is used as the language of instruction. If this trend has extended to sub-urban areas where people mostly still speak local language, this will be the sign that the language will eventually be extinct as there are no more people speaking the language.

From the mixture of perspective that I have today as both an English teacher and a student in linguistics program, I am likely driving my thought about this case ahead of an intersection. However, in my opinion, there must always be a way to negotiate. I agree that local language should be preserved and I also believe that the mastery of English is needed. Looking closely at why such policy is launched, we should ask why the teaching of English at school literally failed or is not able to make the students speak in English.

Instead of creating English villages which will of course create more problematic effects on local languages and cultures, I prefer trying to persuade government to improve the quality of the teaching of English at school. If the teachers at school can make the students communicate in English fluently, the government does not need anymore to propose such controversial policy. I understand that it will take much effort but I think it is also the right time for everyone to do some reflection. 

This is only Indonesia that has more than 300 different ethnicities, more than 700 local languages and more than 17.000 islands. This is also only Indonesia that is brave not to surrender to English, Dutch nor Japanese language but prefer having Bahasa to negotiate the communication among people from different ethnicities. This is a history showing the spirit of diversity and nationality when Indonesian people firstly built the country.

It’s the time for both government and society to work together to deal with how both needs can be negotiated. It is certainly government’s responsibility to make a certain language policy, but it is also again up to the commitment of the society to ensure that everything is mediated wisely. I believe that everyone will say we’re all proud of how we are and not willing to be said as another new “they are.”

Minggu, Februari 26, 2012

Guru apa ya perlu belajar sebelum mengajar?

Ada teman pengajar biologi yang kemarin tanya tentang perbedaan “above” dengan “on” dan “beneath” dengan “under.” Dengan jujur saya jawab, “Wah saya nggak terlalu paham itu, karena jarang ngajar materi itu. Nanti saya coba cari tahu dulu ya.” Pernah juga ada murid lewat BBM yang tanya, “Sir, yang bener “congratulations” apa “congratulation” ya? Alasannya apa? Sudah dari sananya?”

Teman pengajar Bahasa Inggris juga cerita, murid sekarang kritis-kritis. Bentuk klausa, “After I go to school” bisa diubah menjadi, “Having gone to school.” Nah kalau, “After I can go to school” di ubahnya jadi apa? Dengan tegas dia pun menjawab, “Ya bentuk seperti itu ya memang tidak bisa di singkat.”

Yang lebih repot dan beberapa kali terjadi, ketika selesai menjelaskan semua konsep. Tiba-tiba ada murid yang nyeletuk, “Perasaan guru saya di LIA ngejelasinnya bukan gitu deh mister.” Untuk menjawab pertanyaan ini, tentu butuh kehati-hatian dan rujukan teori yang jelas. Tidak mungkin saya mengatakan, “Salah itu guru mu di LIA! Yang benar saya.” Bisa jadi malah ada perang saudara.

Setelah mengalami kejadian-kejadian ini akhirnya sekarang setiap mengajar saya selalu bawa kamus dan juga beberapa buku grammar yang tebalnya nggak karuan. Sebelum mengajar, saya belajar. memastikan semua konsep paham dan tahapan materi yang akan saya jelaskan juga gampang dipahami dan sesuai latihan soal yang ada. Saya juga merujuk ke variasi soal dan permasalahan yang berbed-beda.

Karena pernah ada kejadian, di buku konsep “I feel the ground ...” contohnya hanya “shaking.” Dengan cerobohnya saya ngajar hampir 200-an kelas mengatakan kalau setelah verbs of perception yang ketemu objek maka setelah itu verb+ing. Di contoh ada yang tidak ada jawabannya dan adanya “shake”. Setelah baca beberapa buku grammar lain, ternyata konsep tersebut bisa verb 1 dan bisa juga verb+ing. Untung nggak ada murid yang tahu dan protes. Tapi kemudian jadi terpikir bagaimana caranya saya harus meralat ke 200-an kelas tadi?

Jadi, kalau ada yang bilang guru layar tancap itu ya ada benarnya. Sebelum mengajar, guru itu belajar dulu semua materi yang mau diajarkan. Tapi justru sebenarnya lebih bagus daripada guru yang masuk dan terus tanya ke murid, “Belajar apa kita?” Kemudian ketika menemukan materi yang belum dikuasainya jadi ngeles dan bilang, “Wah alangkah baiknya kalau kita mempelajari materi di bab selanjutnya karena ini yang akan sering dikeluarkan di UN dan SNMPTN.” Tapi ya memang ini juga terdengar lebih bagus daripada kemudian memaksakan diri menjelaskan yang belum paham tapi berpura-pura paham. Jadinya justru malah tidak karuan.

Kasus ini mungkin bisa terjadi di kelas, tetapi akan berbeda cerita kalau di luar kelas dan murid kebetulan bertanya membawa contoh soal UN dan SNMPTN. Sudah bisa dipastikan variasi soalnya luar biasa memusingkan. Menguasai materi sebagian itu tidak akan cukup untuk seorang guru. Masa ya iya kita menjawab, “Waduh, Nak. Bapak belum paham.” Kemudian murid berkata, “Wah kalau Bapak aja bingung apalagi saya, Pak.” Pernah bahkan terjadi, murid komplain keras karena seorang guru tidak bisa mengerjakan sebuah soal yang dianggap mereka sangat sederhana dan meminta guru tersebut tidak mengajar kelas mereka lagi. Kasus yang lain ada yang sebaliknya. Karena saking tidak mengertinya dengan pelajaran, guru marah-marah di dalam kelas saat jam pelajaran karena tidak ada murid yang memperhatikan. Ini sudah barang tentu miris sekali terdengarnya.

Di soal pernah ketemu, “Pak, ini soalnya I ask him ...” Kemudian saya pun menjawab, “Oh ada di konsep causative atau gerund dan to infinitive.” Murid saya pun menjawab, “Bukannya causative di buku itu let, make, have, dan get aja ya, Pak?” Nah, kasus  ini juga repot lagi. Banyak buku yang seolah-olah ditulis oleh guru pencak silat. Ilmu kanuragannya di simpan karena takut bisa dikalahkan muridnya. Ilmu 100% situliskan hanya 65%. Soal di buku itu mungkin iya, lewat. Giliran ganti soal dengan variasi yang macam-macam, sudah bisa ditebak, pasti kelabakan.

Berpikir murid nggak tahu apa-apa itu sudah barang tentu hal yang salah. Murid justru punya akses luar biasa lewat guru di sekolah, guru privat di rumah, guru di bimbingan belajar, teman, orangtua, internet, handphone, buku, majalah, dll. Artinya, murid sebenarnya punya potensi untuk jauh lebih mengerti dan paham dibandingkan gurunya. Sederhananya, yang membedakan antara guru dan murid bila dilihat dari sudut pandang ini adalah cuma siapa yang tahu terlebih dulu. Seperti misalkan gosip perselingkuhan artis yang murid ceritakan kepada kita dan kita belum tahu. Bukankah itu judulnya sama saja mereka mengajar kita?

Murid bertanya pun kadang juga mulai saya sadari tidak bisa di angap sepele. Ada empat kemungkinan murid bertanya: bertanya karena memang tidak tahu atau belum paham, bertanya karena untuk menguji kemampuan guru, bertanya untuk membandingkan pemahaman dari satu guru ke guru lain dan bertanya untuk mendapatkan poin keaktifan. Bila kejadiannya alasan satu dan empat, ya tidak masalah. Tapi bila kejadiannya alasan kedua dan ketiga sementara kita tidak siap, ini repot.

Murid kalau kita pahami juga bisa dikelompokkan lagi. Ada murid yang belajar karena memang ingin belajar, belajar karena hanya akan ujian dan belajar karena dipaksa orangtua. Pertanyaan dari kelompok kedua dan ketiga tentu tidak merepotkan. Karena pemahaman mereka tentang pelajaran tidak sebaik yang memang ingin belajar yang pekerjaannya mengoleksi dan melahap habis soal-soal degan berbagai macam variasi. Tetapi saya sendiri justru berpendapat, guru yang maunya mengajar kelompok pertama ini justru guru yang cenderung maunya bermain aman. Tanpa di ajar, nilai 8-10 itu sudah pasti karena mereka rajin belajar. Tapi membuat yang jarang belajar nilainya bisa setingkat itu, itu tantangan.

Tentu menjawab “tidak tahu dan akan mencari dulu” terdengar lebih bijak daripada menjawab “tahu” tapi justru menjerumuskan murid dan mempermalukan diri sendiri. Guru, saya kira, sama dengan murid dan karena itu wajib terus belajar dan belajar. Kalau tidak, sudah pasti guru akan menemui masalah yang justru akan terus bertambah karena istilah we could share only what we knew itu memang benar adanya. Saya juga suka dengan kata-kata Brown, “In life, mistakes are made, problems are faced and lessons are learned.” Saya kira sama, saya banyak membuat kesalahan yang berujung pada banyak permasalahan. Tapi justru dari situ, saya jadi bisa terus mengambil pelajaran, kembali membuka buku untuk terus belajar dan belajar.

Senin, Januari 30, 2012

Menyegarkan Kembali Pemahaman Tentang Keberagaman

Kejadian perang antar suku di Sidomulyo, Lampung Selatan bisa dikatakan luar biasa. Bagaimana tidak, hanya bermula dari keributan pemuda di desa, sesama warga jadi bentrok yang berakibat pada pengrusakan rumah warga yang tidak sedikit jumlahnya.

Ini jadi mengingatkan saya pada kejadian anarkis di gedung FISIP Universitas Lampung oleh mahasiswa Fakultas Teknik dari kampus yang sama tahun lalu. Hanya karena permasalahan dua mahasiswa dari fakultas yang berbeda itu bersenggolan motor, bisa berujung pada rusaknya fasilitas kampus dan banyak kendaraan umum yang ada di sana.

Pertanyaannya adalah apakah setelah mereka melakukan kerusuhan dengan anarkis itu akan menyelesaikan masalah? Tidak. Yang ada justru menambah masalah. Pihak yang merasa terserang akan berpikir untuk melakukan serangan balik dan begitu seterusnya. Semua kemudian jadi terperangkap pada pola berpikir sempit, yang hanya memikirkan kelompok sosial di mana mereka bernaung saja dan tidak menyadari bahwa sejatinya mereka di tempat yang sama.

Seolah-olah ini juga menunjukkan bahwa pembelajaran mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) dan Agama, dan pendidikan secara umum, belum sepenuhnya berhasil di sekolah-sekolah. Dalam 2 jam mata pelajaran PKn dan 2 jam Agama setiap minggunya dalam 12 tahun, siswa diajarkan untuk hidup saling tenggang rasa, menghormati satu sama lain, cinta tanah air dan bersikap jujur. Kenyataannya, semua dari kita mengetahuinya.

Kasus terakhir di Padang juga menarik. Seorang PNS yang mengaku atheist di tangkap polisi. Banyak yang mengatakan memang sudah sewajarnya karena melanggar Pancasila dan UUD 1945. Banyak juga yang mengatakan bahwa atheist itu berbahaya karena tidak percaya Tuhan, makanya lebih baik diamankan daripada nanti memancing amarah warga.

Kasus Ahmadiyah juga sama. Warga terpancing untuk berbuat anarkis terhadap penganutnya. Begitu juga dengan di Garut, warga mengusir penganut syiah dan polisi pun berusaha melindungi mereka. Tentunya ini hal yang lebih baik daripada kasus di Padang. Meskipun secara tidak langsung ini membuat saya sendiri sedikit bertanya-tanya. Menteri Agama, Surya Dharma Ali, mengatakan syiah itu bukan Islam, pernyataan ini tentu kontroversial tetapi saya hanya ingin fokus pada cara pandang yang berbeda dibandingkan kasus yang sebelumnya. Di sini artinya, syiah menurut beliau dianggap sebagai keyakinan di luar yang diakui di Indonesia. Kalau begitu kenapa atheist yang juga sama statusnya dalam hal pengakuan negara mendapat perlakuan yang berbeda?

Kalau di dalam Pancasila disebutkan “Ketuhanan yang maha esa” kenapa ada agama-agama yang diakui di Indonesia mempercayai lebih dari satu Tuhan? Bila konsepnya seperti itu berarti cuma agama Islam yang layak diakui. Tetapi kan tidak seperti itu. Kita menghargai agama-agama yang lain. Begitu juga dengan di UUD 1945, negara melindungi hak semua warganya untuk beribadah sesuai dengan keyakinannya. Artinya tidak tersurat pemikiran bahwa penganut keyakinan tertentu harus dihukum. Yang ada tentu keterangan bahwa yang melakukan kriminalitas akan berhadapan dengan hukum. Lalu apakah memiliki keyakinan di luar 5 agama yang diakui di Indonesia itu tindakan kriminalitas? Apakah menghakimi warga yang memiliki keyakinan berbeda itu bukan kriminalitas?

Toleransi tentu bukan berarti menggadaikan keyakinan kita sendiri. Ini pemahaman yang keliru. Kalau saya beragama Islam tetapi membela hak atheist, ahmadiyah dan syiah untuk melakukan ritual ibadah sesuai keyakinannya, bukan berarti saya penganut kepercayaan mereka. Tetapi saya mencoba menghargai bahwa mereka juga warga negara yang mempunyai hak sama seperti kita. Apabila mereka mengaku tidak percaya Tuhan, kemudian warga beramai-ramai datang memukulinya, ini sekali lagi tidak terlihat manusiawi. Kenapa? Karena masalah keyakinan tidak sama dengan permasalahan kriminalitas, yang tidak selayaknya mendapatkan perlakuan yang sama di depan hukum buatan manusia.

Membunuh seseorang yang mempunyai keyakinan syiah itu jelas kriminalitas. Tetapi seseorang memiliki keyakinan tertentu, itu sudah pasti beda cerita. Tidak bisa kita menyebutnya sebagai kriminal. Bila kita berada dalam suatu negara yang menganggap penganut Islam kriminal dan harus dihukum oleh hukum negara atau penghakiman warga pasti kita akan merasa terdzolimi. Begitu juga dengan yang mereka rasakan saat ini.

Masalah keyakinan itu permasalahan hidayah dan hidayah itu belum sampai pada mereka. Sebagai Muslim, ini juga hal yang harus kita pahami. Kita juga harus melihat fakta, banyak yang mengaku Islam tapi sholat saja tidak pernah. Pertanggungjawaban seseorang terhadap keyakinannya itu adalah antara dirinya dengan Sang Pencipta. Kalau kriminalitas itu jelas dengan negara di mana dia berada. Sehingga, ketika hukuman dijatuhkan atas dasar keyakinan, apakah kemudian penjara solusinya? Apakah pemilik keyakinan itu kemudian di penjara akan dipaksa berkeyakinan sesuai dengan agama-agama yang diakui negara saja? Tentu tidak bisa.

Kita harus memahami, sebagai kelompok mayoritas kadang kita merasa digdaya terhadap kelompok minoritas. Kita tidak menyadari bahwa kita hidup di tengah masyarakat yang sangat multikultural. Padahal, bila kita kembali mengurut sejarah, inilah semangat awal bangsa Indonesia terbentuk. Berbagai suku dengan latar belakang budaya dan bahasa yang berbeda bersatu untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Setelah sekian tahun merdeka, haruskah kemudian semuanya jadi terbelah-belah lagi hanya karena permasalahan perbedaan suku, agama dan ras? Bung Karno dan Bung Hatta tidak dipanggil Mas Karno dan Uda Hatta untuk menghindari kecenderungan kesukuan. Mereka membawa semangat kebangsaan. Inilah yang seharusnya kita kembali tegakkan. Kita hidup di Indonesia, maka sudah sewajarnya kita menghargai perbedaan dengan semangat persatuan dan kesatuan. Bhineka tunggal ika.

Sebuah Hikmah Perjalanan

Waktu masih kuliah dulu di Universitas Lampung, saya jadi ingat dulu dibagi koran kampus gratis di jalan menuju gedung C FKIP. Di koran itu ada seorang dosen FMIPA Unila yang S2 dan S3 nya di Jepang bercerita tentang pengalaman studinya selama di sana.

Saat itu, dia datang ke kelas dan berkata kepada professornya, “Maaf Pak, saya telat karena badai salju yang parah pagi ini.” Professornya ternyata di luar dugaannya menjawab, “Itulah kenapa negaramu nggak pernah maju.”

Badai salju, terlebih di negara maju seperti Jepang,sudah bisa diprediksi selambat-lambatnya satu hari sebelumnya. Begitu juga dengan badai salju pagi itu. Semua stasiun televisi sudah melaporkannya satu malam sebelumnya. Sehingga harapannya, semua warga bisa mengantisipasi semua konsekuensi dari badai itu di esok harinya agar tetap bisa sampai di kampus dan tempat kerja tepat pada waktunya.

Rupanya, menurut dosen MIPA Unila ini, dia masih terbawa kultur di Indonesia. Cuaca bisa menjadi alasan untuk sedikit telat. Dan ternyata dia bukannya dimaklumkan tetapi justru diingatkan (memperhalus kata tersindir secara mendalam).

Kadang saya juga, yang kebetulan mengendarai sepeda motor sejak kuliah dan kerja, terpaksa harus berteduh saat hujan dengan konsekuensi telat sampai kelas atau kantor. Padahal, ketika mau berangkat, sembari melihat kondisi awan, saya sudah bisa memastikan akan turun hujan.Tetapi saya memilih cuek saja meninggalkan jas hujan di rumah.

Jadi istilah, “There’s no bad weather; what exists is bad clothing” itu ada benarnya. Seandainya saya mempersiapkan jas hujan, walaupun hujan sangat deras, saya akan tetap bisa sampai di tempat kerja tepat pada waktunya. Sama juga apabila kita di negara 4 musim yang kebetulan sedang musim dingin. Kita cenderung mengatakan cuaca di luar itu sangat dingin sehingga kita beralasan untuk lebih nyaman tinggal di rumah lebih lama. Padahal kalau pakaian yang kita pakai menyesuaikan cuaca, sedingin apapun itu tidak akan menjadi sebuah masalah. Jadi memang sekali lagi bukan cuacanya, tetapi seberapa bisa kemampuan kita menyesuaikan diri dengan cuaca itu.

Kejadian ini kebetulan saya alami juga kemarin. Dua hari sebelumnya, saya sempat membaca timeline di Twitter dan update status BBM beberapa murid dan teman yang menyebrang dari Pelabuhan Bakauheni ke Merak dan sebaliknya. Mereka semua mengeluhkan keterlambatan sampainya kapal.

Cuaca yang buruk menjadi alasan kenapa kapal ferry sebagian besar enggan beroperasi sementara waktu. Yang terjadi kemudian adalah penumpukan mobil-mobil di pelabuhan. Saya juga sebenarnya sempat melihat berita di televisi meskipun hanya sambil lalu. Tetapi saya tidak sampai memperkirakan kalau keterlambatan itu akan membuat saya juga kelabakan pada akhirnya.

Dijadwalkan saya akan mengikuti tes GRE di IIEF tanggal 25 Januari 2011 pukul 9.00 WIB. Karena kebetulan teman kost di Paseban sudah pulang ke daerahnya masing-masing sehingga saya tidak mempunyai tempat menginap, saya memutuskan untuk berangkat malam sehari sebelum tes. Perkiraan saya, normalnya perjalanan akan menempuh 7-8 jam. Sehingga, kalau saya berangkat pukul 22.00 maka sampai di Gambir pukul 6.00 pagi. Rencana saya, saya mandi di Gambir dan kemudian berangkat ke IIEF, sampai di sana jam 7.30 pagi.

Tetapi kembali lagi, semua di luar perkiraan saya. Cuaca buruk yang mengakibatkan ombak besar masih membuat sebagian besar kapal enggan menyebrang. Tiba di Pelabuhan Bakauheni pukul 00.00. Saya sempat melihat mobil berbaris banyak sekali sebelum kembali memutuskan untuk tidur. Ketika bangun, tidak menyangka rupanya sudah pukul 04.00 dan bus Damri yang saya tumpangi baru saja akan masuk ke kapal. Keringat dingin pun seketika keluar dan saya menyadari keterlambatan itu berarti keterlambatan jadwal tes di Jakarta. Asumsinya 2 jam menyebrang berarti saya akan sampai di Merak pukul 06.00, dan 2-3 jam dari Merak ke Jakarta, berarti sampai di Jakarta sekitar pukul 08.00 atau 09.00, sementara tes GRE jam 09.00.

Yang bisa saya lakukan sementara waktu adalah update status di BBM “Astaghfirullah” dan di Twitter. Karena mau menghubungi IIEF jam 4 pagi pasti juga belum buka kantornya. Akhirnya saya memutuskan untuk ke dek dengan membawa buku latihan GRE dan pen. Intinya berdoa, berusaha dan menenangkan diri.

Lagi, penyeberangan yang saya perkirakan 2 jam ternyata menjadi 4 jam. Kapal ferry tersebut mengambang sebelum sampai di Pelabuhan Merak selama 2 jam karena semua dermaga terpakai. Dalam kekalutan, seorang teman, Mbak Fania, menghubungi dan berkata akan membantu menghubungi Ibu Hafida di IIEF. Saya pun kemudian menghubungi Ibu Wiwin melalui BBM jam 07.00 pagi. Sempat khawatir karena baterai BB sudah drop takut mati ketika di hubungi. Syukurlah, BB benar-benar off setelah Ibu Hafida dan Ibu Wiwin menghubungi memberi kabar agar saya sesampainya di Gambir langsung menuju IIEF untuk menemui Pak Yosep.

Karena mungkin siang, berangkat dari Merak menuju Gambir pukul 08.00, Kebon Jeruk dan Tomang macet total. Perjalanan yang idealnya 2 jam pun menjadi 3 jam. Sesampainya di Gambir pukul 11.00, saya pun menyempatkan sholat dan berangkat dengan busway. Sesampainya di IIEF pukul 12.30, supervisor tes langsung memberi form untuk tes. Lega. Ternyata bisa dijadwal ulang dengan alasan kendala dalam perjalanan yang saya alami. Padahal seharusnya telat 15 menit pun tidak bisa. Tidak lupa, beliau ngomong kalau saya sudah membuat heboh warga satu kampung. Haha.

Setidaknya ini kemudian menjadi pelajaran yang sangat berharga buat saya. Seharusnya saya sudah antisipasi untuk datang di Jakarta satu hari sebelumnya sehingga tidak akan memiliki resiko telat sampai di Jakarta. Bagaimanapun juga kita tidak bisa memperkirakan secara pasti lamanya sebuah perjalanan, karena banyak faktor yang membuat perjalanan bisa cepat dan lambat. Kalau cepat tentu tidak akan menjadi masalah, tetapi kalau lambat pasti konsekuensinya lebih banyak.

Ternyata, beberapa teman juga ada kamar yang kosong di kontrakannya dan malam ini pun saya bisa menginap di sana. Permasalahannya kemarin adalah karena saya tidak mau bertanya. Alhamdulillah semuanya lancar. Selalu ada hikmah dari setiap perjalanan. Terimakasih semuanya.

Minggu, Januari 15, 2012

Titisan Pak Presiden: Do'a Mbah Pawiro

Hasil ngobrol dengan Mbah Pawiro kadangan tidak kalah menariknya seperti ngobrol dengan para Ph.D., Pak Kyai atau Sufi. Obrolannya selalu berisi. Pembahasannya bisa mulai dari teknik tanam padi dan kopi sampai MU vs Manchester City. Semuanya dianalisis dan dikuasai dengan bumbon lelucon yang tidak nggurui tur mboseni.

Seperti biasa setelah mandi sepulang seharian bekerja di sawah, Mbah Pawiro momong cucunya di gardu gank depan rumah. Sembari momong dan daripada bengong, beliau tampak asyik ngobrol dengan para tetangga dengan kegiatan serupa. Saya yang kebetulan sedang leyeh-leyeh sembari sinawang di depan rumah pun jadi terpanggil menjadi salah satu pembicara dalam forum obrolan.

“Kapan tho yo pemilu presiden iki. Kok ubruk-ubruke wes mulai ket wingi nang tipi.”
“Ngge 2014, Mbah. Tesek kaleh tahun meleh.”
“Lah yo sek sui nek ngono.”
“Sinten nggeh mbah sing bade kepilih?”

Mbah Pawiro pun terlihat berpikir sembari mesam-mesem ngguya-ngguyu tanpa sepatah kata keluar dari mulut di wajah tuanya.

“Waduh. Enten nopo, Mbah?”
“Aku kelingan jaman wong tuoku ngramal pas njenengi aku.”
“Lho. Romo ne simbah niki dukun tho?”
“Sembarangan wae nek ngomong awakmu! Yo udu. Romo ku iki Pak Guru. Persis koyo awakmu.”
“Hahaha.. Kulo wastani nek saget ngramal niki rak dukun ngoten, Mbah.”

Mbah Pawiro pun bercerita tentang kenapa namanya harus Pawiro bukan Slamet, Sugeng atau Paijo yang masih nge-trend saat beliau lahir. Bapaknya berharap kalau suatu hari Mbah Pawiro bisa jadi presiden menggantikan Pak Soekarno.

“Lho, lha nopo kaitane presiden kaleh nami Mbah Pawiro niku, Mbah?”
“Mbokyo sabar tho yo!”
“Hahaha.. Nggeh, Mbah. Nuwun sewu.”

Menurut Bapaknya Mbah Pawiro, presiden Indonesia itu bakal sesuai tatanan “NOTO NOGORO.” Setiap suku kata merepresentasikan satu nama yang bakal berkuasa lama. Nama selain dalam suku kata itu mungkin bisa berkuasa, tetapi belum tentu akan lama. Ibarat Mbah Pawiro yang baru duduk pulang dari sawah, sudah ada cucu yang goyang-goyang kursi minta di papah.

NOTO menurut Mbah Pawiro adalah “Soekarno” dan “Soeharto.” Pak Soekarno memimpin Indonesia lebih dari 20 tahun sementara Pak Soeharto hampir 33 tahun. Bagaimanapun akhir cerita dari kepemimpinan mereka, menurutnya, bukanlah jadi masalah.Yang penting mereka memang sudah tergariskan untuk jadi pemimpin Indonesia, sesuai tatanan formula NOTO NOGORO.

“Lha Habibie, Gus Dur, Megawati mboten keitung nek ngoten ceritane, Mbah?”
“Nah iyo bener. Pinter awakmu.”
“Hahaha.. Rak Pak Guru kulo, Mbah?”
“Hahaha.. Lah iyo. Nek awakmu iku ncen temenan “Guru.” Di guyu goro-goro sering cerito saru.”
“Hahaha.. Lah sinten riyen simbah gurune?”
“Maksudmu?”

Mbah Pawiro pun melanjutkan ceritanya tentang NOGORO. Karena definisi awalnya memang “yang berkuasa lama” maka pemerintahan transisi pada masa reformasi pun tidak bisa dimasukkan formula. Seperti kisah ditunjuknya Sjafroedin Prawiranegara untuk jadi presiden sementara di jaman awal merdeka. Ya mungkin juga karena nama-nama mereka yang nggak pas dengan “NO” dalam tatanan rumus penguasa. Jadi, yang masuk cuma Pak SBY dengan “Yudhoyono” nya, dan memang beliau juga lah yang sudah memimpin hampir 10 tahun di Indonesia.

Jadi yang masih tersisa adalah “GORO.” Di pemilihan presiden tahun 2014, berarti kita bakal mencari sosok “GO.” Jadi dalam hitung-hitungan Mbah Pawiro, ya berarti Dahlan Iskan, Hatta Rajasa, Abu Rizal bakrie, Megawati, Prabowo, Wiranto tidak masuk dalam hitungan formula presiden “NOTO NOGORO.” Karena akhiran namanya bukan “GO.”

“Dados sinten, Mbah?”
“Lah yo mboh. Kok takon awakku? Moso yo anakku, Slamet Sutego.”
“Hahaha.. Lah masuk niku, Mbah.”
“Wong tukang nggaweni genteng karo boto, arep dadi presiden ki piye.”
“Lah nasib rak Gusti Allah mawon seng ngertos, Mbah. Seng penting rak usaha.”

Dalam hitung-hitungan coret-coretan di atas kertas, mirip orang tua jaman dulu ngitung primbon, Bapaknya Mbah Pawiro ini menduga kalau pemerintahan Pak Soekarno dan Soeharto tidak akan bertahan lama. Jadi menamakan anaknya “Pawiro” yang lahir di tahun 1945 dimaksudkan agar nama anaknya,  yang ujungnya “RO”, masuk dalam rumus nama-nama calon presiden yang berkuasa. Tapi wong karang namanya nasib, belum sampai “GO” saja umur Mbah Pawiro sudah 67 tahun dan cuma sempat jadi pegawai harian menyukseskan program peningkatan hasil padi kementerian pertanian,  nyangkul di sawah. Prestasi yang dibanggakannya ya satu, sempat foto di depan Monas, saat di ajak anaknya berkunjung tempat anaknya kerja di Cikupa. Fotonya pun terus dipajang di ruang tamu dan ruang keluarga.

“Nah kulo niki saget dados presiden nek ngoten, Mbah?”
“Ngarep awakmu iki. Hahaha.”
“Lah nami kulo rak KRISTIAN ADI PUTRA, Mbah. Enten “RO” ne. Umur kulo tesek selawe. 2014 mengke ngge tesek jatahe “GO.” Nek misal “GO” saget 10 tahun mawon rak tembe tahun 2024. Berarti sak sampune “GO” kulo umure 37 tahun. Walah.. Pas, Mbah.”
 “Hahaha.. Lha berarti ono untunge bapakmu ngrungokno aku.”
“Maksute pripun, Mbah?”
“Pas mbokmu mbayi, aku titip “RO” nang pucuke jenengmu meng Bapakmu.”
“Ben nggentine cita-citane Mbah nek ngoten kulo niku?”
 “Hahaha.. Lha iyo iku. Yen awakmu dadi presiden, simbah mbok yo ojo lali ngko di dadekno menteri.”
“Amin, Mbah.”
“Hahaha. Dudu aku, anakku, yo seng penting awakmu. Iku sebagian do’a lan usahaku.”

Tersipu dan terharu.

Mbakyu Lastri Terjebak Modernisasi


Seperti biasa, aku menyempatkan diri melihat awan yang bergerak pelan. Satu hal yang aku selalu percaya, tidak pernah menunjukkan perbedaan. Di saat siang, hanya akan tampak matahari berteman awan. Sementara ketika malam, rembulan dan bintang akan tetap setia bermesraan dalam kegelapan, kecuali disaat mendung, yang menandai akan turunnya hujan.

Namun, tidak begitu dengan rupa tanah yang sudah penuh kepura-puraan. Jalanan yang tadinya harus dilalui dengan senyuman karena becek terkena air hujan, kini sudah tidak tampak tertimbun aspal hitam. Hutan-hutan bahkan dibabat dibangun pabrik-pabrik dan perumahan. Kayu-kayu pepohonan ditebang, dicuri dan dihanyutkan. hewan-hewan, seperti gajah, harimau dan orang utan, pun juga jadi seperti orang hilang.

Desa pun sudah jadi kekota-kotaan. Patromak dan lampu teplok sekarang sudah berganti lampu neon yang terpasang di tiap ruangan. Bahkan juga di lapangan, yang kata pak bupatinya disebut taman. Tiap malam, muda mudi jadi datang rame-rame berpasangan. Ada yang di atas sepeda motor berpelukan dan berciuman. Ada pula yang sampai mobilnya goyang-goyang.

Bu lurah dan pak lurah sekarang dipanggil “tante” dan “om” oleh para keponakan. Padahal, dulu “Bibi” dan “Paman.” Dulu di mushola, gadis-gadis sibuk ngaji dan rebanaan, sekarang duduk di depan TV nunggu berita gosip perselingkuhan dan perceraian. Sepeda ontel tidak lagi zaman. Padahal dulu, boncengan berdua menaiki sepeda terasa mesra tidak karuan. Sawah dan kerbau pun jadi pemandangan yang membumbui keromantisan.

Ini kemajuan zaman. Pemerataan pembangunan. Kata pak lurah pidato di kelurahan, hasil obrolan malam dengan Kang Parman. Dulunya, Kang Parman ini ngemsi bal-balan, kemarin gara-gara kemajuan zaman, dia jadi dapat order ngemsi tahun baruan di lapangan. Waktu aku kecil, tahun baruan itu ya 1 Muharram. Semua datang ke masjid, pengajian dan ambengan. Tapi rupanya, sudah benar-benar kemajuan zaman. Bahkan, Kang Parman pun dengan cengar-cengir lugu bilang, “Mumpung koe nang kene. Mbok yo warai aku facebook-an.”

Tidak ada lagi layar tancep, sintrengan dan jaran kepang karena TV dan DVD dianggap lebih mengasyikkan. Tidak ada lagi ngangsu dan ngumbai di mbelik sawah atau tegalan, karena semua sudah punya sanyo yang airnya langsung mancur di kran. Luweng dan kompor minyak hook dan butterfly pun juga tinggal kenangan. Warung-warung yang jualnya pecel dan gorengan, sekarang jadi nyambi sedia gas 8 literan.

Kang Parman bahkan sampai melongo dan terheran-heran. Anaknya, Wulan, minta dibelikan celana lejing mirip punya artis, Olla Ramlan. Istrinya, Mbakyu Lastri yang dulu manggil Simbok ke Ibunya, minta dipanggil mama sama Wulan dan Kang Parman. Saat Mbakyu Lastri masak bahkan, handphone selalu di tangan. Istri Kang Parman ini sibuk sms-an dengan Bu Triman, sekedar tanya menu masakan dan rencana kompakan baju arisan di kelurahan. Gending campursari dan karawitan kesukaan Kang Parman juga diprotes Wulan. Lagunya diganti dengan lagu punk yang katanya ngetrend anak zaman sekarang. Padahal menurut Kang Parman, lagunya kayak perabot dapur berjatuhan, kedumbrangan.

Sembari jalan pulang, sekali lagi aku sempatkan menatap langit yang tertutup dedaunan. Entah di mana bersembunyinya bintang dan bulan. Yang nampak hanya awan hitam dalam kegelapan. Tapi, setidaknya itu sama seperti malam di mana aku termenung di perantauan. Malam yang sama meski berbeda zaman. Tidak terasa, hujan pun turun membasahi tanah jalanan. Jalan yang lupa atau mungkin belum terkena proyek pembajuan aspal hitam. Aku terjerambab dalam kubangan, basah kuyup dalam kegelapan. Tersenyum. Rupanya masih ada kejujuran yang tersisa di atas daratan.

Jumat, Januari 06, 2012

In Search of a Real Hero in Indonesian Education

In a national speech contest held by UKM-U English Society of Lampung University last month, a participant delivered a speech entitled “A Dedication to Our Education.” What she said at that time was so impressive and all three judges, including me, were curious to ask her questions related to the theme of her speech. She talked about the reality in the society where fresh graduates recently preferred starting a career in urban areas to thinking of making a change or improving the condition in rural areas. She also added that this paradigm had created a gap of development between urban and rural areas in almost all aspects of life, including education.

Still in her speech, she said that few graduates of best college of education did not want to teach in rural areas. Most of them go teaching at good schools in big cities. Although some of them also choose such area to start a career as a civil servant, their interests to teach there are not because they really want to, but they use the area to get the status as a civil servant and later they will try to transfer to big cities. At the time I was listening to her speech, I nodded and agreed to what she said. In my opinion, this phenomenon is common as some of my friends and even my mother did that. My mother previously taught at a school in Air Naningan, Tanggamus and now she teaches at a school near our house. The school in Air Naningan is far from our house and it’s absolutely costly. Then my father and I suggested that she move to the school near our house. At the end of her speech, this participant invited all university students to dedicate themselves to rural areas after they graduate later.

When finally I got the chance to ask her, I tried to figure out her own vision by asking, “Let’s say you have just graduated from your college. If you were accepted as a civil servant in two places, Bandar Lampung and Mesuji. Which one will you choose?” She smiled and undoubtedly answered, “Bandar Lampung.” Her answer is both predictable and shocking. I again asked, “Then what is the point of your speech? If all talented people like you prefer teaching in the city to dedicating your life in the village, will that condition change?” I understood she had been a bit lost until she finally said, “I don’t think all of them will do that. But if you were in my position, I believe you would also choose the same thing like what I do.” Three judges looked at each other and smiled.

It is somewhat ironic to know the fact that schools in rural areas do not have teachers due to the above reality. In an elementary school, for instance, there is only three teachers and one headmaster. Therefore, since there are six classes, each teacher will teach two classes at the same time.It’s of course hard to be said effective. They also teach all subjects, even though they don’t have relevant education background with the subjects they are teaching. A teacher graduated from Physical Education, for example, will also teach science, social studies, mathematics, English and Bahasa Indonesia. Probably we all agree, the lessons in an elementary school are easy and are able to be taught by any teacher. However, it sounds more logical to ask about the condition of our teeth to a dentist than to a medical doctor. But, in such condition, everything can happen.

Students in college of education whom I invited to talk mostly say that schools in rural areas do not really have adequate facilities like library, science laboratory, language laboratory and computer laboratory. They think such condition will limit their creativity in teaching. I personally have different opinion. The society in a village with its surrounding environment is basically already categorized as a laboratory in nature. It is a rich resource to be deeply explored and I always see that it will make a teacher more creative in designing a lesson. Students in the city always just watch the movie of a person ploughing his rice field and planting paddy or even jut read it like a story in a textbook, but students in the village can see that in the real context and even practice to do it directly with their classmates and teachers or their parents.
For me, students in the village are more unique. They can see world from two sides as they have access to simple life in the village and the possibility to go to city and observe everything in it. But students in the city, in most cases, do not really know or even do not care about the condition of life in the village, so whenever they are forced to live in a village in a university program like internship, they will easily experience culture shock for many things they do not really expect to happen. However, having done the internship, they said that they really learnt so many things there and said that village is really the place to learn about life.

Their other worry related to this issue is lying on parent concern toward their children education. The parents in such area mostly do not really care how far their children have learnt at schools and how education will make a better change to their children’s life destiny. They just hope that their children will graduate from elementary or junior high schools and help them work in their family’s rice field or business. They do not think about the need of formal education for their children to have better future. This attitude also makes their children have less motivation to study at school.

However, if they were there, in my opinion, they would have an opportunity to change the mindset of both the children and their parents. The lessons can be designed to make them realize how education is important for the development of themselves and their village, e.g. Connecting the ideas of result of research or the habits of reading agricultural books to improve agricultural products. After reading that, an enlightment is possibly given. For example, all of that knowledge would be found in university, if they go to college, then they graduate, they will know many things much better and have better opportunity to have a better career. Think of students in the city in which their parents already have good concern to their children education and future, I can honestly say that a teacher teaching in a city basically has no longer had a real challenge.

I remember when I did my teaching practicum in SMA Perintis 2 Bandar Lampung two years ago. At the same time, I was also an English teacher at Sekolah Darma Bangsa (SDB) in Bandar Lampung, this school is on its way to be an international school in Lampung. Although both schools are located in Bandar Lampung, the gap between the two is obvious. Students studying in SMA Perintis 2 Bandar Lampung mostly come from low to middle class family and SDB students mostly come from middle to high class family. The learning facilities both at school and at home, the support of the parents to their children and the system, including the teachers, the faculty and the curriculum, inside the schools are absolutely two different things.

After school, SDB students mostly have additional classes in a study course or by inviting a private teacher. School also offers additional classes of English, Math and Science. I sometimes assume, though I don’t really teach them how to speak English well, students will perfectly be able to do that. They already have so many teachers! For English, they study the subject in regular class, additional class, daily conversation with their exchange student friends, expatriat teachers and other local teachers, their house with their parents or private teacher, English course, internet and handphone. In SMA Perintis 2 Bandar Lampung, it might happen but could be possibly done by very few of them. Students have less motivation to study and it makes the teachers have to show extra effort to make the students listento the lesson. After teaching practicum session had been done at that time, most students met my friends and me, practicum teachers, and involved in a more personal talk. They said that they needed teachers who could inspire them and made them learn, the things they finally found on us. Does at least one of us stay and teach there though a call to teach comes and even school also requests us to stay? Nobody.

All of my friends prefer teaching in better schools and also with better income and facilities. It is all true and absolutely a part of life reality. Everyone tends to stay in a comfortable situation and forgets that such comfort zone actually makes them stagnant and unable to learn more. Personally I admit that I learn better as a teacher in SMA Perintis 2 Bandar Lampung and two other schools in the village in which I have ever taught, SDN 6 Gadingrejo and SMAN 1 Gadingrejo, than in SDB. I need more time to make them understand the lessons, but because of that I also have more lessons about patience and inspiration to make the students learn both about the subject and life lesson.

Until I have a chance to prepare my graduate study which makes me have to resign from SDB, I finally have clear view of both conditions. Students in rural areas or students like in SMA Perintis 2 Bandar Lampung require more dedicated teachers who could make a change and inspire them for their better future. Their areas are also calling to be touched by the spirit of inspiring educators who still have strong idealism to make better improvement in all aspects of life through education. I do appreciate a program, Indonesia Mengajar, initiated by Anies Baswedan, Ph.D. and some other similar programs initiated by DIKTI and colleges of education in Indonesia who send fresh graduate to teach in rural areas in Indonesia for a year. It’s a good start to make fresh graduates and also all of us realize that rural areas need us more. We often critize government policy and curse the ironic condition of our education but have we ever asked to ourselves what we have contributed to our education so we think we deserve to criticize? It’s of course better to enlight more and more candles than to curse the dark condition. We all need a hero: a real hero in Indonesian education. That might be you, me or us. We all can start it today. Happy celebrating the Day of Indonesian Heroes, Indonesia!